Karya:
Sitria Da Costa**
PADA
pukul 12 siang, Risa yang sedang duduk di kelas tiba-tiba diganggu oleh beberapa
lelaki. Risa diganggu lantaran memiliki rambut berwarna pirang seperti orang bule. Tetapi, saat itu Clara datang dan
menyuruh para lelaki penggoda itu pergi. Sejak kejadian itu, Risa dan Clara
mulai akrab, bahkan tak terpisahkan hingga mereka kelas 1 SMA.
Pada
suatu Sabtu sore, ketika Risa sedang menonton film di rumah Clara, orangtua
Risa menelepon dan menyuruhnya pulang ke rumah. Padahal saat itu hari belum
gelap. Risa berpikir, ini hal yang cukup aneh. Orangtuanya tidak biasa
menyuruhnya pulang kecuali sudah malam hari. Buat apa mereka menyuruhnya
pulang?
Ketika
sampai di rumah, Risa terkejut sewaktu melihat adiknya menangis. Dia tahu
adiknya bukan tipe orang yang emosional. Dia berpikir kemungkinan anjing
piaraan mereka mati, atau ada hal buruk terjadi sehingga membuat adiknya
menangis.
"Apa
yang terjadi?" tanya Risa kebingungan.
"Begini,
Risa. Papa dipindahtugaskan ke Kupang selama beberapa tahun ke depan. Kita
semua akan pindah ke Kupang," ucap ayah Risa.
"Hari
Senin depan kita sudah berangkat ke Kupang, Risa," sambung ibu Risa dengan
lembut.
“Apa!? Yang benar
saja! Aku harus pindah ke Kupang, bertahun-tahun lagi di sana. Aku sudah cukup
nyaman di Rote. Aku tidak mau,” batin Risa.
Jadi
ini alasan adiknya menangis. Risa juga tidak ingin pindah. Ia sudah sangat
bahagia dengan tempat tinggal mereka sekarang. Tapi, bagaimanapun ia memohon
untuk tetap tinggal di Rote, orangtuanya akan tetap bersikeras agar mereka
semua harus pindah.
Risa
sedih serta bingung. Ketika Risa memberitahukan hal tersebut kepada Clara, sahabatnya
itu sangat sedih. Risa merasa tidak enak. Sebenarnya Risa tidak mau
meninggalkan Clara, tapi tidak ada pilihan lain. Risa pun menghabiskan hari
terakhirnya di Rote bersama Clara dengan melakukan hal-hal yang biasa mereka
lakukan, seperti menonton film, bermain game favorit mereka yaitu free fire, dan ha lain yang dapat
membuat mereka bahagia.
Ketika
tiba saatnya pergi, ia memberikan boneka kesayangannya kepada Clara sebagai kenang-kenangan.
Mereka menangis sambil berpelukan. Keduanya berjanji akan bertukar kabar setiap
harinya. Akhirnya Risa pergi meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke
Kupang.
Mereka
berangkat ke Kupang pukul 9.00 pagi dan tiba pukul 13.00 menggunakan kapal
laut. Rumah keluarga Risa berada di pinggiran Kota Kupang. Rumah itu tidak
terlalu besar, memiliki 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu, ruang
keluarga, dan dapur. Halamannya tidak terlalu luas. Risa cukup beruntung karena
diperbolehkan memeliharan Dogi, anjing piaraan yang dibawanya dari Rote.
Sudah
tiga hari mereka berada di Kupang, tapi Risa dan adiknya belum bisa pergi ke
sekolah. Alasannya, orangtua mereka masih mengurus surat kepindahan dari
sekolah di Rote ke Kota Kupang. Tapi hari penantian itu tidak berlangsung lama.
Saat
hari pertama masuk sekolah, Risa diantar oleh guru dari Bagian Kesiswaan menuju
kelasnya. Sesampainnya di kelas, Risa memperkenalkan diri, lalu dipersilahkan
duduk bersama seorang cewek tomboi di
kelas tersebut. Sewaktu jam istirahat, Risa diajak berkenalan oleh beberapa
siswa di kelas, lalu diajak ke kantin bersama mereka.
Setelah
tinggal di Kupang kurang lebih satu bulan, Risa mulai bisa beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya. Dia juga bahkan mendapat beberapa teman yang lumayan
akrab. Tapi sehabat-sahabat barunya itu tidak bisa menggantikan posisi Clara
sebagai sahabat terbaiknya. Risa dan Clara biasa bertukar kabar setiap hari,
dan terkadang mereka ngobrol berjam-jam di telepon untuk melepas rasa kangen.
Setelah
dua bulan tinggal di Kupang, Risa mulai menyukai seorang cowok di ekskul basket
bernama Alex. Alex merupakan ketua tim basket. Ia memiliki rambut coklat dan
mata coklat terang yang sangat indah. Risa sangat menyukainya, karena dia tak
hanya tampan, tapi juga baik dan lucu. Keduanya memiliki kesamaan, yakni suka
bermain free fire, juga suka dengan kucing dan anjing. Risa dan Alex semakin
dekat setiap hari, walaupun mereka berbeda kelas.
Suatu
hari, Alex mengajak Risa pergi menonton bioskop bersama. Setelah membeli
popcorn dan milk tea, Alex memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia memiliki cara yang aneh dalam mengungkapkan perasaannya.
"Risa,
aku sangat suka kau sejak awal kita kenal. Maukah kau menjadi pacarku? Jika mau,
ambillah popcorn ini. Jika menolak, ambillah milk tea ini," ucap Alex
kepada Risa.
"Iya,
Alex, aku mau. Aku juga suka dengan kau sejak pertama kali kita kenal," jawab
Risa sambil mengambil popcorn dari tangan Alex.
Risa
sangat senang, akhirnya bisa menjadi pacar dari cowok yang selama ini ia suka.
Risa tak sabar untuk menceritakannya kepada Clara. Namun pada saat bercerita,
Clara terlihat tidak terlalu antusias dengan cerita Risa.
Empat bulan berlalu. Kehidupan Risa di
Kupang sangat sempurna. Apalagi sekarang ia sudah memiliki pacar yang sangat
baik hati. Namun sayangnya, hubungan Risa dan Clara jadi semakin jauh. Risa hampir tidak ada
waktu ngobrol berjam-jam dengan Clara
di telefon tiap malam. Risa merasa jadwalnya dan Clara berbeda. Ketika Clara
menelepon atau chat, Risa sedang
sibuk. Saat Risa menelepon atau chat
balik, Clara tidak menjawab. Di lubuk hati paling dalam, Risa tahu kalau Clara
selalu peduli kepadanya, walaupun sekarang kehiduan mereka lumayang berbeda.
Meski tak sesering dulu, Risa dan Clara masih menyempatkan diri mengobrol
kapanpun jika ada kesempatan.
Suatu malam, ketika keduanya sedang
berbicara melalui telepon, Risa berkata, “Clara, aku dan Alex akan pergi
kencan."
"Yang benar saja, Risa. Masa sih?
Kapan? Di mana? Jam berapa?" tanya Clara dengan antusias, membuat Risa
bingung menjawabnya. Risa merasakan ada perbedaan dalam perbincangan mereka
kali ini: setiap kali Risa menyebut nama Alex, Clara selalu tidak peduli. Tapi
kali ini agak berbeda. Ia terdengar sangat antusias.
"Iya,
tapi tanya satu-satu, Clara. Aku jadi bingung mau jawab bagaimana. Aku dan Alex
akan pergi ke restaurant hari Minggu, jam tiga sore," jawab Risa.
"Iya,
maaf, Risa. Tapi jangan lupa dandan yang cantik, supaya Alex tambah suka dengan
kau.”
"Iya-iya,
aku tahu itu, Clara. Sudah dulu, ya, Clara, aku mau kerja tugas," kata
Risa.
"Oke,
Risa. Aku juga mau kerja tugas sekolah."
Setelah
itu Risa pun mematikan telepon dan mengerjakan tugas sekolah.
Ketika
hari Minggu tiba, Risa pergi ke restaurant yang telah dijanjikan. Risa masuk
dan duduk kurang lebih 30 menit, tapi Alex tak kunjung datang. Risa memutuskan
untuk bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk restaurant.
"Permisi,
Pak. Apa Bapak melihat orang ini?" tanya Risa sambil menunjukan foto Alex
pada security itu.
"Iya,
Kak. Tadi saya melihatnya pergi bersama seorang wanita menggunakan mobil,"
jawabnya.
"Bagaimana
cirri-cirinya wanita itu, Pak?" tanya Risa memastikan.
"Wanita
itu memiliki mata agak sipit, hidung mancung, berambut hitam panjang
sepinggang, kulitnya kuning langsat, dan ada tanda seperti bekas luka di bagian
tangan kirinya."
"
Terima kasih, Pak."
Risa
berpikir, ia dan Alex tidak memiliki kenalan yang ciri-cirinya sesuai dengan
apa yang disebutkan oleh security
tadi. Namun, Risa tahu siapa yang sangat cocok dengan ciri-ciri itu: Clara.
Tetapi Clara berada di Rote, tidak mungkin datang di Kupang dan berbicara
dengan Alex. Walaupun Risa pernah bercerita tentang Clara kepada Alex, tapi
jelas-jelas Alex tidak begitu mengenal Clara. Risa memutuskan untuk menelpon
Alex. Telepon diangkat, tapi ada suara perempuan di seberang sana. Mereka
sepertinya sedang bertengkar, dan telepon terputus.
Risa
tak tahu apa yang sedang terjadi, jadi ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, Risa merasa seperti
sedang diikuti. Sewaktu melihat ke belakang, Risa melihat sebuah mobil avanza warna hitam berjalan dengan
sangat pelan. Awalnya Risa berpikir itu hanya sebuah kebetulan. Namun ketika
Risa berhenti, mobil itu pun ikut berhenti. Ketika ia berjalan, mobil itu pun
ikut berjalan. Merasa terancam dan ketakutan, ia berlari sangat kencang ke
rumahnya, yang jaraknya cuma lima rumah dari posisi berdirinya. Sesampainya di rumah,
Risa melihat ke belakang. Mobil yang mengikutinya tadi terparkir di jalan depan
rumahnya.
Risa
membuka pintu rumah dengan gemetar karena takut. Pada waktu bersamaan, Dogi
berlari ke arah mobil itu, bereaksi seperti ketika Alex datang berkunjung ke
rumah mereka. Dogi, anjing piaraan itu, sangat menyukai Alex.
Penasaran,
Risa berjalan ke arah mobil itu. Dia melihat Alex berada di kursi penumpang.
Tangannya diikat. Sementara itu, Clara duduk di depan kursi kemudi.
"Apa
yang terjadi. Apa yang kaulakukan dengan Alex di Kupang?" tanya Risa
keheranan mendapati Clara berada di Kupang.
"Tolong!
Dia menyuruhku menunggumu di mobil ini
lalu menculikku,"teriak Alex dari kursi penumpang.
Clara
dengan cepat menatap Risa.
"Oh,
hai, Risa," sapa Clara sambil melambaikan tangannya ke arah Risa.
"Apa
yang kamu lakukan dengan Alex?" tanya Risa kebingungan.
"Dia
bukan cowok yang baik untukmu, Risa. Jadi aku ingin kau dengannya putus
sekarang juga!" ucap Clara dengan santainya.
"Kamu
gila! Aku tidak akan putus dengan Alex," kata Risa.
"Baiklah,
kalau itu yang kamu mau. Aku akan membawanya pergi jauh supaya kamu tidak bisa
menemukannya lagi."
"Apa
kau sudah gila Clara? BIARKAN DIA PERGI" teriak Risa.
Risa
berjalan ke pintu penumpang untuk menghampiri Alex, tetapi mobil itu mulai
melaju dengan cepat. Risa berlari mengejar mobil itu, namun larinya sangat
pelan jika dibandingkan dengan kecepatan mobil itu. Dogi juga ikut berlari
mengejar mobil itu. Dogi hampir tertabrak mobil saat ia menyeberang arus lalu
lintas. Mobil dan Dogi kini hilang dari pandangan Risa. Wanita itu sangat
takut. Ketika hendak menelepon polisi, secara sangat kebetulan sebuah mobil
patroli lewat di depannya.
“Bagaimana
mereka bisa mengetahui kejadian ini dan siapa yang menelpon polisi?” batin Risa.
Ketika
Risa berjalan pulang ke rumah, ibunya berlari ke arahnya dengan khawatir sambil
memegang hp di tangannya.
"Risa,
kamu baik-baik saja? Ibu mendengar semua keributan yang terjadi lalu menelepon
polisi," ucap ibunya.
"Terima
kasih, Ma. Aku sangat khawatir dengan Alex."
Dua
jam telah berlalu. Mobil polisi yang mengejar mobil Clara datang kembali dengan
membawa Dogi di kursi penumpang.
"Saudari
Clara telah ditangkap. Ia sangat galak dan berusaha untuk melawan ketika
ditangkap tadi," kata polisi itu.
"Bagaimana
keadaan Alex dan Clara, Pak?" tanya Risa khawatir.
"Saudara
Alex sudah kami antarkan pulang ke rumahnya. Sedangkan saudari Clara sudah kami
bawa ke kantor polisi."
Setelah
mengatakan hal tersebut, polisi itu pun berpamitan kepada Risa dan ibunya.
*****
Dua
hari kemudian, Risa mendapatkan panggilan telepon dari kantor polisi.
"Selamat
siang, apakah benar ini dengan saudari Risa?" tanya polisi memastikan.
"Iya,
benar, ini dengan saya sendiri. Ada apa, Pak?" Kata Risa
"Begini,
Kak. Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap saudari Clara."
"Pemeriksaan
apa, ya, Pak?"
"Kami
telah memeriksa psikologi dari saudari Clara dan ternyata ia mengidap gangguan
Bipolar."
"Bipolar!!
Apa itu, Pak?"
"Gangguan
bipolar ini merupakan gangguan yang menyebabkan orang mengalami perubahan
suasana hati yang ekstrem dan melakukan banyak hal di luar karakter
mereka."
Lalu
panggilan telepon pun dimatikan. Risa sangat terkejut karena ia baru mengetahui
jika sahabatnya mengidap gangguan bipolar. Tetapi mengapa Clara tidak bercerita
kepadanya? Risa juga baru mengetahui jika Clara mengalami berbagai masalah:
Risa yang tidak berada di dekatnya lagi dan ayahnyayang juga minggat dari
rumah. Risa tidak pernah berpikir jika perpisahan yang mereka alami terlalu
berat untuk Clara dan bisa membawanya ke gangguan bipolar.
Bagi Clara, Risa adalah satu-satunya orang yang Clara miliki walaupun berbeda kota. Clara juga ingin menjadi satu-satunya sahabat untuk Risa. Akan tetapi, Alex muncul dan membuat Clara merasa tak nyaman. Clara juga cemburu dengan Alex. Tapi persoalan ini akhirnya bisa diatasi. Untunglah, tidak ada dampak serius yang ditimbulkan. Risa bisa kembali ke kehidupan normalnya tanpa rasa trauma. *****
*Karya ini tergabung dalam buku "Bukankah Waktu dan Cinta Sekadar Ilusi?" Antologi Cerpen Siswa SMA Negeri 7 Kupang
**Nama lengkapnya adalah Sitria Selviana Da Costa Amnifu. Lahir di Kupang, 2 September 2008. Hobinya adalah memasak dan menonton. Motivasinya dalam mengikuti kelas menulis adalah untuk mengembangkan keterampilan menulis. Bisa dihubungi di Instagram itsjust.selvi.
