Bolehkah
Sekali Saja?*
Oleh: Arni Chloe Dianta**
NAMAKU Asfira Shakila, umurku 17 tahun, dan aku berasal
dari sebuah keluarga yang kaya. Papaku seorang pemimpin perusahaan dan Mamaku seorang
wanita karir. Aku bersekolah di sekolah yang elite di daerah kami. Aku
mempunyai lima orang sahabat yang sangat baik, bernama Andira, Bianka, Rania,
juga si kembar Maya dan Raya. Menurutku, mereka sahabat yang sangat baik dan
selalu ada untukku. Di sekolah, kami dikenal sebagai siswa yang populer, cerdas,
dan cantik. Berenam, kami membentuk sebuah geng, dan geng itu sangat terkenal
di sekolah kami. Nama geng kami adalah Black
Spider, dan aku adalah ketua geng-nya.
Walaupun aku dikenal sebagai anak yang ceria dan
cerdas, nyatanya hidupku tidak seperti apa yang dipikirkan orang-orang. Aku kurang
diperhatikan kedua orangtuaku. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka, dan
setiap kali ada waktu di rumah, mereka jarang memperhatikanku⸺mereka tetap sibuk dengan urusan masing-masing.
Suatu hari, menjelang hari libur sekolah, Bianka
mengajak aku dan anak Geng Black Spider
pergi ke vila milik keluarganya, yang berlokasi di puncak.
"Teman-teman, bagaimana kalau libur sekolah kali
ini kita ke vila keluargaku? Pasti seru! Sekalian jalan-jalan," kata
Bianka.
"Boleh juga tu. Vila kamu itu kan di puncak, lewat perkebunan teh. Pasti
udaranya sejuk," jawab Andira.
"Kalau aku sih oke-oke saja," kata Rania.
“Kami sudah pasti ikut dong,” kata Maya dan Raya
hampir bersamaan.
Bianka melihatku dan berkata,”Kalau kamu bagaimana,
Shakila?"
Aku berkata bahwa aku harus meminta izin dulu
kepada kedua orangtuaku. “Takutnya mereka tidak mengizinkan,” kataku.
Dengan sedikit harap, Bianka berkata, “Ya sudah.
Kalau begitu kamu tanya dulu sama orangtua kamu, kalau mereka izinkan, kabari kami,
ya, Sha.”
Setelah nongkrong sama teman-teman, aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat Papa dan Mama yang sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Aku ingin meminta izin pergi ke vila milik Bianka, tetapi aku
bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada mereka. Mereka terlalu sibuk.
Tapi, aku coba memulai komunikasi.
"Selamat sore, Mama, Papa," ucapku
memulai pembicaraan.
"Sore, Sha," ucap mereka secara
bersamaan.
“Shakila mau minta izin sama Papa dan Mama. Boleh
tidak, liburan sekolah kali ini Shakila pergi jalan-jalan sama teman-teman
Shakila? Kami rencana pergi ke vila keluarganya Bianka."
Belum selesai aku berucap, tiba-tiba Mama mendapat
telepon dari asistennya kalau ada rapat penting yang harus dilaksanakan
sekarang. Jadi Mama buru-buru bersiap, merapikan laptop dan berkasnya lalu bergegas
ke kantor.
"Maaf, Nak. Kamu kasih tahu sama Papa saja,
ya. Mama lagi ada rapat penting yang tidak bisa ditunda," ujar Mama, lalu
bergegas pergi meninggalkan aku dan Papa.
Aku hendak melanjutkan ucapanku yang sempat
tertunda tadi, tapi tiba-tiba Papa langsung berkata kepadaku, "Oh iya, Nak.
Kita bicaranya nanti saja, ya. Papa masih banyak kerjaan." Setelah berkata
begitu, Papa kembali fokus pada laptop dan berkasnya.
Mendengar itu, aku sangat sedih dan berkata dalam
hati, "Aku hanya ingin
diperhatikan, sekali saja."
Keesokan paginya, aku bersiap pergi ke sekolah.
Setelah bersiap, aku turun dari kamarku yang ada di lantai dua, menuju meja
makan, berharap bisa duduk berkumpul dengan Papa dan Mama. Aku berharap bisa
sarapan sama-sama dengan mereka. Tapi yang kutemukan adalah kursi kosong. Makanan tengah disiapkan oleh Bi Ina, ART di rumah
kami.
"Mama sama Papa belum turun, ya, Bi?" tanyaku
pada Bi Ina yang tengah sibuk menyiapkan makanan.
"Nyonya sama Tuan sudah berangkat kerja, Neng.
Dari tadi pagi. Katanya nanti makan di luar saja," jawab Bi Ina.
"Ohh," jawabku singkat.
Aku melanjutkan sarapan pagi dan bergegas ke
sekolah. Aku sampai di sekolah dan disambut oleh teman-temanku dengan gembira.
Dengan spontan aku tersenyum, menyembunyikan wajah sedihku lantaran sarapan
pagi yang membosankan tadi. Namun sepertinya wajah sedihku masih bisa dilihat
oleh Andira dan yang lainya.
“Kamu kenapa, Sha? Kenapa wajahmu kelihatan sedih
seperti itu?"tanya Andira khawatir.
"Iya, Sha. Tidak biasanya kamu terlihat sedih
seperti itu," sambung Bianka.
"Memangnya kelihatan ya kalau aku lagi sedih?"
jawabku.
"Iyalah. Kamu kalau lagi sedih kentara
sekali," jawab Raya.
“Tidak. Aku hanya kurang tidur saja," jawabku
dengan santai, berusaha menutupi keadaan keluargaku.
"Oohhh, kami kira kamu sedang sedih," ujar
Maya.
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, kelas akan segera
dimulai. Aku dan teman-teman yang lain langsung bergegas masuk ke kelas.
Setelah kelas selesai dan waktunya istirahat, kami bergegas ke kantin sekolah.
Di kantin, Bianka kembali membahas perihal rencana kami untuk pergi berlibur ke
vila keluarganya yang ada di puncak.
"Shakila, kamu sudah izin atau belum sama
Mama dan Papa kamu soal rencana kita ke vila," tanya Bianka.
"Sudah, dong,
dan mereka sudah beri izin," ucapku berbohong.
Aku terpaksa berbohong. Aku tidak ingin mereka
tahu bahwa aku bukanlah anak yang selalu diperhatikan orangtuanya.
Sepulang sekolah, aku diajak pacarku untuk
berkencan. Nama pacarku adalah Abian. Abian seorang pria tampan, cukup populer
di sekolah. Namun dia sedikit pemarah dan susah mengendalikan emosinya. Tidak
sering, aku menjadi tempat pelampiasan amarahnya. Dia sering bersikap kasar
padaku. Aku sudah berusaha memutuskan hubungan kami, tapi dia tidak mau
mendengarkanku. Awalnya aku berpacaran dengan Abian hanya untuk mendapatkan
perhatian darinya. Ini kulakukan karena aku kurang mendapat perhatian dari
orangtuaku. Namun, bukannya perhatian yang kudapatkan. Aku malah mendapat
perlakuan kasar darinya. Ingin rasanya aku menolak ajakannya, namun aku takut
dia akan bersikap kasar lagi padaku.
Kami pergi berkencan di kafe yang sering
digunakannya sebagai tempat nongkrong bersama teman-temannya. Saat berada di
kafe, tidak sengaja kami bertemu dengan Alan. Alan adalah teman baikku. Dia adalah
orang yang selalu menjagaku dari sikap kasar Abian.
"Sedang
apa kau di sini? Apakah kau sengaja ingin merusak kencan aku dengan Shakila?"
ucap Abian dengan marah.
"Heee,
kalo bicara itu dijaga, ya! Ini tempat umum. Memangnya kafe ini milik kamu?"
ujar Alan menanggapi perkataan Abian. Dia kemudian duduk di meja yang tak jauh
dari kami.
Alan
kenapa bisa ada di sini? Dia tidak biasa nongkrong di kafe seperti ini. Oh, aku
tahu. Ini pasti ulah teman-teman. Mereka pasti sengaja kasih tahu Alan supaya
bisa menjaga aku.
Dengan
kehadiran Alan, aku menjadi lebih tenang. Setelah makan, Abian mengantarkanku
pulang. Namun terjadi keributan di dalam mobilnya. Dia menuduh aku mengajak
Alan ke kafe itu dan mengacaukan kencan kami.
"Pasti
kamu yang kasih tahu Alan supaya datang dan merusak kencan kita," bentak
Abian dengan nada marah.
Mendengar
bentakan itu, aku menjadi takut.
"A..aku
tidak tahu. Bu..bukan aku yang memberitahunya," ucapku.
Tiba-tiba
Abian menepikan mobilnya, menyuruhku turun dari mobil, lalu pergi meninggalkanku
tanpa rasa kasihan sama sekali. Suasana yang gelap, dingin, dan sepi membuat
aku semakin takut. Aku khawatir Papa dan Mama akan mencari aku. Aku mulai
menangis.
"’Sekali saja’ aku hanya ingin diperhatikan,”
ucapku
sambil menangis.
Saat
menangis, tiba-tiba aku melihat seperti cahaya motor dari jauh. Aku mencoba
meminta pertolongan dari siapapun orang yang datang itu. Syukurlah, ternyata
itu adalah Alan. Alan yang melihatku dari jauh langsung menepikan motornya.
"Kamu
kenapa, Sha? Bukannya tadi kamu sudah diantar pulang oleh Abian? Sekarang Abian
di mana? Kok kamu sendirian saja di sini?"
Aku
hanya diam membisu. Aku tidak ingin memperkeruh suasana.
"Ya
sudah kalau kamu tidak mau cerita padaku. Sekarang aku antar kamu pulang. Ini
sudah malam," kata Alan.
Aku
hanya mengangguk.setelah mengantarkan sampai di depan rumah, Alan langsung
pamit pulang. Saat aku hendak masuk ke rumah, aku membayangkan kalau Papa dan
Mama akan khawatir padaku, dan pasti menunggu aku pulang. Tapi, yang aku dapati
hanyalah satu pasang suami istri, sibuk memandangi laptop mereka masing-masing.
Mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku. Aku sangat kecewa. Ternyata Papa dan
Mama sama sekali tidak memperhatikank, bahkan ketika aku tidak pulang di saat
hari sudah malam.
"Memang benar. Aku tidak pernah berarti bagi
mereka. Bahkan aku tidak pernah diperhatikan oleh mereka, walau hanya sekali
saja," ucapku dalam benak.
Keesokan
paginya aku pergi ke sekolah tanpa sarapan pagi, karena aku tahu sarapan tanpa
kedua orangtuaku selalu membuatku kecewa. Tiba di sekolah, aku bertemu dengan
Abian. Dia meminta maaf kepadaku atas sikapnya tadi malam, dan beralasan bahwa
tadi malam dia terbawa emosi.
Aku
hanya diam dan tidak menanggapinya. Aku lalu pergi begitu saja dari hadapannya.
Aku bersikap seperti itu, karena aku ingin dia tidak menggangguku lagi.
Terlihat raut wajahnya berubah menjadi merah. Sepertinya dia tidak terima
karena aku memperlakukannya seperti itu. Namun aku heran mengapa dia tidak
memarahi ataupun membentakku. Sesampainya di kelas, kulihat teman-temanku
sedang berembuk.
“Teman-teman,
besok kan sudah libur, bagaimana rencana kita ke puncak?” tanya Andira.
“Aku
sudah menyiapkan vilanya. Tinggal menunggu Shakila saja,” kata Bianka.
“Pokoknya
kita harus bisa memanfaatkan Shakila,” ujar Maya.
“Iya,
aku setuju. Dia itu kan anak orang kaya. Tidak apa-apa kalau kita
memanfaatkannya,” kata Raya.
“Aku
juga sudah bosan dengan anak itu. Sekarang ini dia sudah mulai pelit dengan
kita,” balas Rania.
“Iya,
anak itu sangat menyebalkan. Sayang sekali rencana kita dan Abian untuk
mengerjainya jadi gagal,” sambung Bianka.
Sial.
Jadi selama ini mereka semua hanya berpura-pura menjadi baik di depanku?
Ternyata selama ini, orang-orang yang aku anggap sahabat, yang selalu
memperhatikan aku, ternyata berbohong dan memanfaatkanku. Aku
yang sudah tidak bisa menahan emosi, langsung menghampiri mereka
"Ohh,
jadi selama ini kalian hanya memanfaatkan aku saja?! Aku kecewa dengan kalian.
Mulai sekarang, aku bukan lagi sahabat kalian," ucapku dengan kecewa lalu
pergi meninggalkan mereka.
Mulai
saat itu kami mulai jarang bertemu. Sebelum hari libur, aku diajak oleh Alan
untuk bertemu. Dia bilang ingin menyampaikan suatu hal yang penting. Kami bertemu
di taman pada sore hari.
"Sha,
aku mau bicara sama kamu. Sebenarnya aku dapat beasiswa untuk melanjutkan
sekolah di Amerika," ucapnya dengan serius.
"Kamu
serius? Kamu tidak sedang membohongi aku kan?" ujarku.
"Aku
serius. Aku harap kamu bisa menjaga diri baik-baik. Karena mungkin saat kamu
dalam bahaya, aku sudah tidak bisa menjaga kamu lagi,” ujarnya, sedikit sedih.
"Baiklah.
Aku harap ini menjadi pilihan terbaik buatmu. Aku mau tanya. Bagaimana kamu
bisa tahu kalau aku sedang berkencan dengan Abian di kafe itu?"
"Sebenarnya,
waktu itu aku ingin mengajakmu bertemu dan membicarakan soal rencanaku pergi
bersekolah di Amerika. Saat aku pergi mencarimu, teman-temanmu memberitahu
bahwa kamu diajak kencan oleh Abian. Saat itu aku gelisah. Aku pergi mencarimu
karena Abian sering menyakitimu," jawab Alan.
"Makasih,
Alan. Kamu selalu mau menjagaku," ujarrku seraya memeluknya.
"Santai
saja. Kita kan sudah lama bersahabat," ujarnya seraya tersenyum.
Pertemuan
itu menjadi pertemuan terakhirku dengan Alan. Saat libur sekolah, aku hanya
berdiam diri. Aku sangat kesepian. Aku sudah tidak punya sahabat baik lagi.
Orang yang selalu menjaga dan menemaniku sudah berada jauh dariku. Kedua orangtuaku
pun selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
Bolehkah
sekali saja, aku diperhatikan oleh mereka? Terus-menerus seperti itu
yang aku pikirkan setiap kali aku merasa sedih.
Dua
Minggu berlalu. Kini waktunya untuk masuk sekolah. Jujur, aku sangat tidak
bersemangat pergi ke sekolah, karena pasti aku akan bertemu dengan lima sahabat
palsu itu. Sampai di sekolah, ada hal yang justru lebih menghebohkan. Ada isu
yang disebarkan oleh orang-orang tentang keluargaku. Aku diejek oleh anak-anak
yang ada di sekolah dengan julukan “anak pungut” karena tidak diperhatikan oleh
kedua orangtuaku. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan perkataan mereka. Namun
hari demi hari aku lalui dengan terus menerima ejekan itu. Aku sangat yakin
Abianlah yang menyebarkan gossip itu. Akhirnya aku memilih bolos sekolah. Mulai
saat itu, aku yang pada mulanya dikenal ceria dan pintar, kini menjadi anak
yang pemurung. Prestasiku menurun.
Pada
suatu hari, aku dibawa oleh teman-temanku ke sebuah gudang di belakang sekolah.
Aku berusaha melawan, tapi kalah jumlah. Maya dan Raya memegang kedua tanganku
kemudian Andira menjambak rambutku. Untung saja pada saat itu, ada murid yang
lewat, melihat perkelahian itu, lalu bergegas melaporkan kepada para guru.
Karena kejadian itu, orangtuaku dipanggil menghadap kepala sekolah. Selesai
berbicara dengan kepala sekolah, aku dibawa pulang oleh kedua orangtuaku. Di rumah,
aku malah dimarahi.
"Kenapa
kamu membuat masalah di sekolah? Tadi Papa harus meninggalkan rapat penting
karena ulahmu itu,"ujar Papa.
"Kerjaan
Mama jadi terbengkalai karena ulahmu itu," ujar Mama. "Jika ingin
melakukan suatu, pikirlah terlebih dahulu."
"Maafkan
Shakila, Mama, Papa," jawabku lalu pergi ke kamar tidur. Aku menangis di
kamar tidur.
Tangisku
terisak-isak hingga akhirnya aku pusing lalu jatuh pingsan. Saat sadar,
ternyata hari sudah pagi. Aku bangun, mandi dan istrirahat kembali. Karena
kejadian kemarin, aku dilarang masuk sekolah selama satu minggu.
*****
Dua
tahun berlalu. Aku telah lulus SMA, dan kini bekerja di sebuah perusahan
ternama. Aku memilih tidak bekerja di perusahan Papa dan Mama dengan alasan
ingin mandiri.
Suatu hari, saat hendak ke kantor, aku bertemu dengan seorang pria tampan dan tinggi. Wajahnya sangat familiar di mataku. Aku hanya berdiri dan diam terpaku melihatnya. Pria itu mendekat lalu memelukku. Tanpa sadar, kukuatkan lenganku untuk memeluknya juga. Dia telah kembali. Sekali ini, aku merasa sangat bahagia.*****
*Karya ini tergabung dalam buku "Bukankah Waktu dan Cinta Sekadar Ilusi?" Antologi Cerpen Siswa SMA Negeri 7 Kupang
**Nama sebenarnya
adalah Kartini Y. N Kabu. Saat ini duduk di kelas X-7 SMA Negeri 7 Kupang.
Hobinya adalah silat dan membaca buku. Arni Chloe Dianta bercita-cita menjadi
Wara (Wanita Angkatan Udara) dan dokter. Motivasinya mengikuti kelas menulis
adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara menulis yang benar dan dapat
menciptakan karya sastra. Dapat dihubungi di Instagram Kartini_0408.
