Hantu Abadi dalam Jiwa

Hantu Abadi dalam Jiwa*

Karya: Natasa Benu**

 

 

 

ANGIN yang bertiup kencang membawa masuk hawa panas ke dalam ruangan. Rea, siswa kelas 7 sekolah menengah pertama, sedang duduk di bangku paling belakang, tampak bosan mendengarkan penjelasan guru tentang sistem reproduksi manusia. Dia sudah sangat lapar, dan satu-satunya hal yang diinginkan adalah mendengar bel istirahat berbunyi. Tapi bel itu tak kunjung terjadi. Dia mencari cara lain agar bisa keluar dari ruangan itu. Dia bangkit, meminta izin kepada guru, mau ke toilet.

Di toilet, Rea tidak buang air kecil. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar mandi sambil bercermin di tempat  wastafel. Kemudian, datanglah seorang siswa ke toilet itu. Nama anak itu adalah Mala. Keduanya berkenalan dan berbincang-bincang sampai bel istirahat berbunyi. Sebelum kembali ke kelas masing-masing, Rea berkata, “Mala, aku boleh minta nomor kamu?”

“Boleh. Catat saja,” jawab Mala sambil memperlihatkan nomor teleponnya kepada Rea.

Setelah dari toilet, mereka melanjutkan perbincangan mereka di kantin. Sambil menyantap cemilan yang dipesan, mereka bercerita tentang banyak hal: pelajaran yang paling disukai, pelajaran yang paling membosankan, kehidupan di rumah masing-masing, dan banyak hal lainnya.

Ketika sampai di rumah, Rea langsung mengambil handphone-nya lalu menghubungi Mala, Mereka berdua saling berkomunikasi dengan asyik, masih melanjutkan cerita-cerita mereka. komunikasi yang terjadi antara mereka pun makin intens. Hal tersebut berlangsung lama, membuat Rea dan Mala menjadi sahabat yang sangat akrab.

Tahun 2019, aktivitas sekolah berubah total karena wabah Covid-19 menyebar di seluruh dunia. Seluruh siswa menjalani aktivitas belajar secara online. Hal ini membuat perjumpaan antara Rea dan Mala terhenti. Jikapun mereka menggelar aktivitas belajar secara tatap muka, mereka tetap tidak bertemu karena berbeda shif. Langkah satu-satunya yang mereka ambil adalah berkomunikasi melalui handphone.

Karena mereka jarang bertemu, Rea mendapat kabar bahwa Mala saat ini telah bersahat baik dengan seorang perempuan lain. Rea menjadi sangat cemburu. Dia merasa orang baru itu telah merebut sahabatnya. Setiap hari, bahkan terasa seperti setiap saat, Rea menghubungi Mala, mengingatkannya akan persahabatan mereka.  

Apa yang dilakukan Rea ini sepertinya tidak berdampak sama sekali. Mala, entah disengaja atau tidak, sering mengabaikan pesan dari Rea. Rea, dari waktu ke waktu, semakin takut ditinggalkan oleh Mala.

Rasa rindu antara dua sahabat itu terobati ketika mereka akhirnya bisa ke sekolah kembali bersama-sama. Waktu itu mereka melaksanakan ujian sekolah. Semua siswa diwajibkan untuk datang ke sekolah dan mengikuti ujian secara tatap muka. Pada kesempatan inilah, Rea dan Mala bisa bertemu kembali. Mala membayangkan bahwa pertemuan yang terjadi ini akan menghapus seluruh rasa rindu mereka yang berlangsung begitu lama. Mereka bisa bercerita tentang banyak hal, dan hal itulah yang disukai mereka berdua. Tapi hal yang terjadi kemudian di luar prediksi Mala. Rea malah menggunakan waktu pertemuan itu untuk berdebat dengan Mala.

Sewaktu Mala sedang bercanda dengan sahabat barunya, Rea mendekat dan berkata, “Mala, kamu kok sama dia, sih. Kamu sudah tidak anggap aku sebagai sahabatmu lagi?”

“Maksudmu bagaimana, Rea? Ini cuma teman aku, kok.  Dan kamu masih sahabatku. Kamu kenapa marah-marah, Rea?” jawab Mala.

“Bohong. Bilang saja itu sahabat barumu, kan? Kamu juga sering mengabaikan pesanku karena dia, kan? Katakan Mala,” timpal Rea dengan marah.

“Sudahlah, Rea! Terserah kamu mau bilang apa! Aku tidak mengerti maksud dan maumu apa,” kata Mala dengan agak kasar, karena sudah habis kesabarannya.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka menjadi renggang. Komunikasi yang terjadi antara mereka tidak seperti dulu. Mala amat menyayangkan, bahwa persahabatan yang telah mereka bina selama ini akhirnya berakhir dengan tragis. Karena kekerasan hati Rea, dua sahabat itu akhirnya bermusuhan.

Permusuhan itu berlanjut bahkan sampai mereka melanjutkan sekolah di sekolah menengah atas. Kebetulan, mereka berdua masuk di sekolah yang sama, yaitu SMA Bhakti Mulia. Beberapa tahun lalu, sekolah ini menjadi sangat terkenal, lantaran kasus kematian akibat bunuh diri yang terjadi di sekolah ini. Siswa yang bunuh diri itu adalah seorang yang pendiam. Setelah kematiannya, dan diusut kasusnya, ternyata dia hanya tinggal dengan kakeknya. Ibunya telah meninggal. Ayahnya menikah lagi, tapi sang ibu tiri tidak mau sang anak ikut bersama mereka. Dia begitu depresi, sehingga mengambil keputusan untuk menggantung dirinya di sebuah gudang.

Rea dan Mala masuk di kelas yang sama. Sialnya, mereka juga sekelas dengan siswa, yang dulu karenanya maka persahabatan antara Rea dan Mala terputus. Semakin cemburulah Rea ketika melihat Mala berakrab-akraban dengan sahabatnya itu. Rea duduk di bangku paling belakang, di ujung kanan. Sedangkan Mala dan temannya duduk sebangku di barisan paling depan, di ujung kiri. Posisi ini membuat Rea dengan mudah melihat apa yang dilakukan Mala dan temannya.

Sifat buruk Rea perlahan lahan muncul lagi. Sifat dan kelakuannya berubah. Ia yang dulunya baik dan tidak pernah jail, sekarang menjadi suka menyendiri dan tidak bersuara. Hal itu disebabkan karena Rea menyimpan dendam kepala Mala dan temannya. Setiap hari ada saja yang dilakukan Rea untuk mengganggu Mala, dari menyembunyikan barang barang milik Mala sampai ke meletekkan cicak di tempat pensilnya. Setelah mengganggu Mala, Rea langsung kembali ke tempat duduknya dan bersikap seakan-akan ia tidak tahu apa apa. Ia juga sering melamun untuk memikirkan apa lagi yang akan dilakukan untuk mengganggu Mala. Karena Rea selalu saja mengganggu Mala setiap hari, jadi tak heran lagi jika Mala sudah terbiasa akan hal itu. Ia juga tidak perlu curiga, karena ia tahu bahwa semua itu adalah ulah Rea. Sampai kemudian Rea kehabisan akal untuk mengganggu Mala.

Suatu hari, ketika sedang mengikuti pembelajaran di dalam kelas, Mala tiba tiba merasa pusing dan mual. Ia pun izin kepada gurunya untuk pergi ke kamar mandi ditemani oleh temanya. Namun, sebelum sampai di kamar mandi, Mala tiba-tiba berkata kepada temannya sambil memegang kepalanya, “Aduhh, aku pusing.”

Brukkkkkk.

Mala jatuh pingsan di lantai.

“Tolongg!!Tolongg!!” teriak teman Mala.

Untunglah, ada satpam yang kebetulan lagi keliling di area sekolah. Melihat Mala pingsan, ia langsung membawanya ke ruang UKS.

*****

Rea yang tengah berjalan menuju kamar mandi, melihat sebuah gudang terkunci bertuliskan “Dilarang Masuk”. Ia penasaran, apa gerangan sehingga tempat itu terlarang bagi orang-orang. Karena Rea adalah orang yang nekat, ia pun masuk melalui jendela. Ia yakin bahwa tidak akan ada apa-apa di dalam gudang itu. Setelah ia berhasil masuk, ia tidak lupa untuk menutup kembali jendelanya. Suasana di dalam gudang yang sunyi itu seketika menjadi suram, Rea yang dikenal tidak takut akan hal hal gaib itupun menjadi ikut merinding.

“Duh... Kenapa buluku merinding semua, ya!? Tempat apa sih ini? Kenapa tidak boleh masuk?” katanya sambil melihat sekeliling.

Suasana menjadi semakin suram. Barang yang jatuh di belakangnya membuatnya kaget dan semakin ketakutan. Rea bergegas lari keluar, namun ia langsung jatuh tersandung, seperti ada yang memalangi jalan dan menarik kakinya. Ketakutannya menjadi-jadi, dan tiba-tiba pikirannya menjadi kosong. Hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Rea kesurupan oleh penghuni gudang tersebut yang merupakan siswa yang meninggal dengan cara menggantung diri. Arwah yang memasuki tubuh Rea pun seperti melampiaskan amarahnya yang selama bertahun tahun belum tercapai. Dia memecahkan vas bunga ke tembok, membanting kursi, bahkan ia sampai teriak teriak layaknya orang kesakitan. Suara teriakkan itu pun terdengar oleh Mala dan teman temannya di kelas. Guru yang saat itu sedang mengajar meminta tolong kepada Mala untuk melihat Rea yang pamitnya ke kamar mandi namun tak kunjung kembali itu. Mala langsung bergegas menuju kamar mandi. Sesampainya di sana, Mala tidak menemui Rea. Saat Mala akan kembali ke kelas, ia mendengar suara Rea dari arah gudang.

“I..itukan suaranya Rea? Tapi, masa iya dia ada di dalam gudang? Gudang itu kan dilarang untuk dimasuki?” kata Mala sambil melihat ke arah gudang.

Karena suaranya semakin jelas dari arah gudang, Mala pun menuju arah gudang untuk mengecek. Ternyata jendelanya terbuka. Karena yakin Rea berada di dalamnya, Mala tanpa berpikir panjang langsung ikut masuk. Setelah Mala masuk, ternyata ia sudah terlambat. Nyawa Rea tidak tertolong, karena arwah jahat itu telah melukai tubuhnya dengan sadis. Banyak darah yang bercucuran di sekujur tubuh Rea. Mala pun memastikan lagi dengan merasakan denyut nadinya. Tapi Rea, sahabatnya itu, telah tiada. Melihat itu, Mala sangat ketakutan dan ingin segera kembali untuk memberi tahu gurunya. Namun, saat sampai di jendela, seketika jendela itu terkunci rapat dan tidak bisa terbuka lagi. Ia pun teriak teriak meminta tolong, berharap ada orang yang mendengarnya. Namun, setelah beberapa lama ia berteriak, tak ada seorang pun yang mendengarnya. Terpaksa ia harus mencari jendela lain yang mungkin terbuka. Saat ingin menuju jendela lain, ia terkejut karena tiba-tiba mayat Rea membuka matanya lebar lebar. Mayat itu perlahan bangun dan menghampirinya. Mala sangat ketakutan. Ia mencoba berlari untuk bersembunyi, tapi kakinya tersandung dan jatuh tersungkur. Mayat itu terus menghampirinya, lalu mencekiknya.

“Mau lari ke mana kamu?! Kamu akan ikut bersama temanmu ke alam baru, hahahahaa,” kata mayat itu sambil tertawa.

“Tidak, tidak, jangan, aku tidak mau, aku ada salah apa sama kamu, Rea? Kenapa kamu menghantuiku terus?” sahut Mala ketakutan.

“Hahaha, hahaha, bisa-bisanya kamu tidak menyadari kesalahanmu? Akan kubunuh kamu sekarang juga. Kamu begitu teganya menginggalkanku sendiri. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu dariku.” Mayat itu berusaha mencekik Mala.

“JANGAN REA....,” teriak Mala dengan ketakutan yang menjadi-jadi.

Seketika Mala terbangun dari pingsannya. Dia mengurut kepalanya dan berkata, “Ah, untuk cuma mimpi.”

“Syukurlah kamu sudah sadar, Mala. Kamu kenapa bisa sampai pingsan?” tanya teman Mala.

“Tidak apa-apa. Mungkin karena aku tidak makan tadi pagi,” kata Mala.

Teman Mala pun bergegas membeli roti dan teh hangat di kantin untuk Mala. Setelah Mala makan, ia langsung kembali ke kelasnya. Ia ingin sekali melihat Rea. Mala langsung menghampiri Rea dan berkata, “Kamu butuh teman? Aku akan menemanimu ke mana pun kamu mau,” ucap Mala.

“Iya, terima kasih, Mala. Maaf, aku sudah egois saat kamu berteman dengan yang lain sehingga membuat persabahatan kita hancur,” sahut Rea.

“Tidak apa-apa, Rea. Lupakan saja. Mulai saat ini kita berdua akan menjadi temanmu.”

“Terima kasih, Mala. Aku pernah merasakan kehilangan. Aku tidak mau kehilangan teman sepertimu.”

*****

Ketika Rea masuk sekolah dasar, dia tidak memiliki banyak teman. Dia selalu dijauhi oleh teman-temannya, sehingga waktu di sekolah terasa seperti penjara, sangat membosankan. Ibunya telah meninggal dunia. Orang yang paling dekat dengannya adalah ayahnya. Mereka sering bermain bersama, dan ikatan itu membuat Rea sangat bergantung kepada ayahnya. Namun ketika masuk ke kelas empat sekolah dasar, ayahnya menikah dengan wanita lain, dan Rea dititipkan pada kakeknya. Ibu tirinya tidak mau jika Rea ikut dan tinggal bersama mereka. Inilah yang membuat dia trauma, dan cemburu jika ada yang mendekati orang-orang terkasihnya. Sejak kepergian ayahnya, dia sudah berjanji untuk mempertahakan orang-orang yang dikasihinya, apapun caranya. *****


*Karya ini tergabung dalam buku "Bukankah Waktu dan Cinta Sekadar Ilusi?" Antologi Cerpen Siswa SMA Negeri 7 Kupang

**Lahir di Surabaya, 03 Januari 2006. Hobinya adalah menggambar dan melukis. Dia bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses. Ada dua cerpennya yang termuat dalam antologi cerpen siswa "Bukankah Waktu dan Cinta Sekadar Ilusi?", yaitu Hantu Abadi dalam Jiwa dan Cinta Seorang Kungfu. Boleh dihubungi di Instagram @_itsmetsyzz_.