Tuhan Yang Gila

Tuhan yang Gila*

Karya: Alfrado Manehat**

 

 

NAMAKU Peter, siswa kelas 12 di SMA Santosa Jaya. Membosankan, tidak menarik, monoton, mungkin itu  yang bisa digambarkan dari kehidupanku. Hari-hari yang kulalui terasa kering, seolah-olah kehidupan nyata adalah sebuah momok yang harus kuhindari. Teman-temanku. Oh, ayolah. Mereka terlihat begitu membosankan, sebagaimana kehidupan pribadiku, lantaran bagiku, mereka terlalu realistis. Maksudku, apakah mereka memang mengalami hal-hal imajinatif, dunia serba-mungkin, atau mimpi-mimpi yang terasa begitu nyata, sebagaimana yang sering kualami? Untuk saat ini, aku bisa mengklaim bahwa mereka pasti tidak mengalami apa yang aku alami ini! Pikiran semacam itulah yang membuatku lebih nyaman menyendiri, jarang bersosialisasi dengan banyak orang, sehingga aku tak memiliki banyak teman.

Mungkin ini aneh, tapi sesuatu yang paling menarik dari hidupku adalah ketika berada di tempat tidur. Bayangkan betapa nyamannya ini: Engkau cukup letih, beranjak ke tempat tidur, merebahkan badan, mengambil selimut hangat di sampingmu, lalu menutupi tubuhmu. Tak lama, matamu mulai perlahan-lahan terpejam, menghantarkan kesadaranmu ke alam mimpi. Bayangkan lagi keanehan ini: Ketika berada dalam mimpi, aku adalah pengendali dunia mimpi itu. Aku bisa melakukan dan membuat hal apa pun sesuka, semau, seinginku, tanpa batas logika, seolah-olah menjadi Tuhan. Karena itu, dunia nyata seperti sudah tidak begitu penting, sampai-sampai orang terdekat, terutama Mama, menganggapku sebagai pemuda yang aneh.

“Peter, sana, keluar main dengan teman-temanmu! Kamu jangan rebahan terus di kamar!!” teriak Mama yang sedang nonton televisi di ruang keluarga.

“Malas, Ma. Lebih enak di sini!” celetukku dari kamar tidur sambil rebahan di atas kasur yang berantakan.

Mungkin Mama kecewa dengan jawabanku itu. Tapi apa boleh buat! Aku tahu banyak orang yang kecewa dengan sikap dan tutur kataku, tapi apakah ada yang lebih indah dari mimpi, yang mana dalam mimpi itu kamu bisa melakukan hal-hal sesuka hatimu?

Tak lama kemudian, Mama pun membuka pintu kamar. Dia terlihat gusar.

“Apa enaknya tidur di kamar kecil dan berantakan seperti ini, Peter? Sekarang kamu sudah kelas 12, sebentar lagi kamu kuliah. Sana, keluar main dengan teman-teman! Siapa tahu ada teman yang punya rencana mau kuliah di tempat yang sama dengan kamu,” kata Mama dengan nada tinggi. Dia mulai menarik-narik selimut yang menyelimuti tubuhku. Dengan sedikit kaku aku menahan selimut itu.

“Hadeh…. Dibilang malas, ya, malas, Ma. Tutup pintunya! Peter mau tidur!” teriakku.

“Kerjaannya tidur saja setelah pulang sekolah. Tidak mau punya teman lagi kamu? Ya sudah, kalau begitu. Tapi jangan teriak-teriak saat tidur seperti kemarin-kemarin” ujar Mama, sedikit emosi. Dia berdiri cukup lama menatapku. Tapi, kemudian dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar.

“Nah, pergi sana. Ganggu orang tidur saja,” batinku sambil menutup seluruh badan dengan selimut, berniat untuk segera terlelap.

Tidak lama setelah tertidur, aku terbangun di dalam dunia mimpi.

“Kelihatannya tempat ini seperti di lingkungan kampus, tapi suasana kampusnya aneh. Banyak pohon dan batu-batu besar. Tapi, ya, sudahlah. Aku keliling-keliling dulu. Siapa tahu ada hal menarik di sini,” batinku.

Pada awalnya aku begitu kaget dan takut, tapi kemudian aku sadar bahwa ini adalah dunia mimpi. Perlahan-lahan, ingatan akan mimpi-mimpi yang lalu pun menghampiriku. Aku pernah terbang, menghilang, dan biasanya, melakukan beberapa hal yang tak masuk di logika. Aku pun ingat, secara samar-samar, bahwa biasanya aku terbangun di setiap tempat yang berbeda-beda.

“Tentu saja. Kalau dalam mimpi, aku kan punya semua kekuatan yang diinginkan. Mau terbang dulu sambil liat-liat lingkungan sekitar,” kataku pada diri sendiri.

Perlahan-lahan tubuhku terangkat ke udara, beban tubuhku terasa hilang seketika. Hanya dengan memikirkan ‘terbang’, aku mulai terbang. Setelah terbang cukup lama, terlihat dari jauh banyak orang sedang berkumpul di lapangan rumput yang luas. Mereka menghadap ke seseorang yang, sepertinya, sedang menyampaikan sesuatu. Aku juga menyaksikan bahwa mereka semua sedang berdiri di depan sebuah bangunan besar berarsitektur Eropa.

“Ramai sekali. Sepertinya ada hal yang menarik di sana. Aku harus tahu,” kataku.

Ketika aku tepat berada di belakang mereka, tiba-tiba semua orang itu berbalik menatapku dengan tatapan kosong. Pada waktu itu, mereka sama sekali tak mengeluarkan suara.

“Kenapa kalian tiba-tiba seperti itu? Apakah ada yang salah denganku? Atau aku mengganggu kalian?” tanyaku dengan perasaan tidak nyaman bercampur rasa takut.

Tiba-tiba mereka semua terbang ke arahku seperti ingin menyerang.

“Anjing!” teriakku spontan. Aku sangat kaget karena tiba-tiba diserang oleh segerombolan orang tak kukenal.

Ketika meraka datang untuk mengerumun, aku langsung mendorong mereka dengan angin topan yang besar.

Hufff….

Angin topan yang kulemparkan itu mengenai mereka. Tubuh mereka terpental tak beraturan. Beberapa dari mereka malah hilang setelah terkena angin topanku itu. Tapi mereka bangkit lagi.

“Apa yang terjadi dengan kalian, Orang-Orang Aneh? Apakah kalian semua sudah gila?” tanyaku sambil terbang menjauh saat mereka semua kembali berusaha untuk mengerumuni.

“Zuifer….Zuifer....Zuifer,” teriakan mereka serempak dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Lalu, datanglah makhluk menyerupai manusia dengan wajah pucat, kulit keriput, bola mata berwarna hijau, kantung mata yang tergantung, kepala tanpa rambut, badan tinggi, dan kurus tak ada daging. Dia memiliki sayap yang besar, menutupi sebagian tubuhnya. Bagiku, dia terlihat sangat menyeramkan.

Dia langsung menyerang dengan melemparkan objek-objek di sekitar. Objek-objek dengan ukuran sebesar mobil.

Dengan cepat aku terbang ke atas, berusaha menghindari serangan itu.

“Bangsat, siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba menyerang?” teriakku.

“Aku Zuifer, penguasa dunia mimpi. Akulah yang mengatur segala mimpi, dan tidak ada orang lain yang pantas melakukan hal itu selain diriku. Kehadiranmu membuatku marah, karena kauterbang sesuka hatimu. Kaupantas dibunuh karena sudah mengganggu aktivitas di sini,” katanya tanpa ekspresi.

“Sejak kapan kau menjadi penguasa dunia mimpi? Aku sudah lama melakukan banyak hal di sini, namun tak sedikit pun melihat batang hidungmu,” jawabku tak mau kalah.

Aku ingin melanjutkan dengan sumpah serapah, tapi tanpa kusadari sebuah batu sebesar truk menghantam tubuhku dari belakang.

Ahh, teriakku kesakitan saat terkena hantaman batu besar itu, membuat tubuhku meluncur dari udara, membentur tanah dengan sangat keras. Walau terbentur dengan sangat keras, dan walau tubuhku semakin lemah, aku tetap mencoba mencari cara untuk balas menyerangnya.

“Kau seorang pengganggu! Kau sudah seenaknya menggunakan kemampuanmu di sini,” ujar makhluk menyeramkan itu sambil berdiri meletakkan satu kaki di atas tubuhku yang terbaring di tanah.

Aku hanya terdiam sambil berusaha balik menyerang.

“Zrorr..”

Suara sambaran petir dengan kilatan cahaya putih (aku bisa pastikan cahaya ini akan membuatmu buta) mengenai tubuh Zuifer, membuat kedua sayapnya robek. Kini dia, makhluk menjijikkan itu, tak bisa bergerak dengan normal.

Saat Zuifer lengah, aku langsung bangun dan berupaya menyerang kembali. Kukumpulkan tanah sebesar bukit, lalu dengan cepat, menggunakan kuasaku atas angin, mengirimkan bukit itu menimpahnya. Kugunakan juga bola-bola api. Sampai akhirnya, Zuifer terjatuh tak berdaya akibat ratusan bola api besar mengepung dan membakarnya di udara.

Dengan rasa penuh kemenangan, kulihat tubuhnya jatuh dan terbaring tanpa daya di tanah. Dia lalu berkata dengan penuh dendam, “Saya tidak kalah, kau masih saja lemah, sakit, sendiri, dan tak berguna!”

Tiba-tiba dia hilang menjadi debu dan tertiup angin.

Tak lama setelah mimpi itu, aku pun terbangun dari mimpi, dan tersadar di atas kasur besi. Ada corak garis putih abu pada ranjang itu, yang posisinya menghadap ke arah pintu besi.

“Di mana ini? Aku cukup familiar dengan kamar kecil seperti ini, tapi kenapa suasananya terasa aneh?” tanyaku dalam benak.

“Pagi, Peter! Kenapa teriak-teriak lagi semalam?” kata seorang wanita berbaju putih sambil memberikan semangkuk sup padaku.

Aku ingin bertanya, tapi perutku sangat lapar. Kulahap sup itu dengan segera. Tak lama setelah makan, aku diajak keluar kamar, menyusuri lorong panjang. Lorong itu didindingi oleh tembok kotor penuh coretan. Lorong berdinding kotor itu berujung di halaman terbuka yang luas, dengan pohon dan rumput hijau memenuhi lapangan itu. Terlihat banyak orang dengan perilaku aneh di sana: ada yang berbicara sendiri, ada yang duduk diam tanpa mengedipkan mata sedikit pun, ada juga yang super aktif berlarian ke sana ke mari.

Ketika duduk sendiri, aku sepertinya melihat wajah Zuifer yang sedang mengintai dari balik pohon.

“Kenapa dia di sini, Penggangu?” katanya.

Aku mencoba menghampirinya, tapi dia tiba-tiba hilang begitu saja.

Kejadian seperti itu terjadi terus menerus setiap hari dan hal itu terasa menakutkan.

Terkadang, aku mengalami mimpi yang cukup normal. Tapi tetap saja tidak sepenuhnya normal, karena masih saja aku terbangun di tempat yang sama. Aku tidak tahu nama atau apa persisnya tempat itu. Namun setiap kali terbangun, aku selalu ditemani oleh seorang perempuan yang terlihat mirip sekali dengan Mama (wanita yang satu ini terlihat sedikit berbeda dan aneh).  Terlalu sering, aku berjumpa dengan orang-orang di lapangan bersama sang Zuifer.

“Aku harus berbuat sesuatu untuk menghentikan mimpi buruk ini,” kataku.

Pada pagi hari saat terbangun dari tidur, aku bertanya pada wanita yang selalu datang memberikan makanan itu.

“Di mana ini? Tempat apa ini?” kataku memohon penjelasan darinya. Namun dia hanya diam sambil menyodorkan makanan. Sama sekali tak ada jawaban. Akhirnya dia pergi begitu saja.

Tiba-tiba terdengar suara dari lorong panjang di depan kamar: “Tempat ini adalah tempat untukmu, kau sendiri di sini, kau sama seperti orang-orang aneh itu.”

“Itu suara si tukang teror. Dia selalu saja menghantui. Namun di sini, aku tak bisa menyerangnya seperti di dalam mimpi. Aku juga sebenarnya tidak tahu apakah ini adalah mimpi atau bukan. Aku sudah muak dengan semua ini!!” keluhku  sambil mengepalkan tangan keras-keras.

Aku langsung mengambil garpu besi yang ada di atas piring dan langsung menusukannya berkali-kali di leher, hingga banyak darah bercucuran.

“Inilah akhirnya. Mungkin hanya dengan ini, aku bisa kembali ke tempat di mana ada Mama di sana,” ucapku setelah mengalami pendarahan hebat di leher.

Setelah tak sadarkan diri cukup lama, terlihat samar-samar sebuah ruangan kosong. Juga, sesosok tubuh yang ternyata adalah Zuifer.

“Saya adalah kau, Peter. Kita adalah penguasa. Tapi kita terjebak di dalam tubuh dan pikiran. Kita sudah gila. Santosa Jaya, di sana tempat terakhir kita tidur, di sana juga kita menjadi orang gila,” katanya. *****

* Karya ini tergabung dalam buku "Bukankah Waktu dan Cinta Sekadar Ilusi?" Antologi Cerpen Siswa SMA Negeri 7 Kupang

**Nama lengkapnya adalah Lodovikus Alfrado S.B Manehat. Saat ini duduk di bangku XI SMA Negeri 7 Kupang. Hobinya adalah menggambar dan membaca. Motivasinya mengikuti kelas menulis adalah untuk menambah pengalaman dalam dunia kepenulisan. Bisa dihubungi di Instagram @alfradomanehat.